Taimoorazy : UNHCR Abaikan Pengungsi Irak Bergama Kristen

Ribuan pengungsi Iraq yang beragama Kristen sejak peristiwa pendudukan kelompok Negara Islam Iraq Lebanon atau ISIL, yang kini sedang berada dalam pengungsian di Yordania, "diabaikan" oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dalam hal ini United Nations High Commissioner for Refugees atau UNHCR, terutama dalam keinginan mereka untuk mencari status pengungsi dan pemukiman kembali. Aktivis hak asasi manusia dari kelompok Kristen Assyria telah memperingatkan hal tersebut sejak lama. Di awal bulan January 2017 Juliana Taimoorazy, Peneliti dari Philos Project mendapati fakta tentang status pengungsi dari Irak Utara yang beragama Kristen sejak tahun 2014.
Taimoorazy menjelaskan bahwa ia bersama yang ikut mengusahakan pemulangan para pengungsi Irak Utara ini mengaku bahwa ia telah menghabiskan waktu bersama bersama para keluarga pengungsi Irak yang beragama Kristen. Ditemani dua orang teman lain asal Yordania, temuan fakta selama dua hari itu membuat Taimoorazy mengaku sangat bersedih. "Mereka benar-benar terbengkalai sepenuhnya," demikian pendiri Dewan Bantuan warga Irak beragama Kristen, menjelaskan. Menurut The Christan Post ungkapan itu mengarah langsung pada UNHCR. Menurut situs itu juga sumber Taimoorazy di lapangan penelitian menyebutkan bahwa di Yordania masih ada sekitar 15.000 pengungsi Irak beragama Kristen yang mencari perlindungan di Kerajaan Yordania.
 
Temuan itu menurut Taimoorazy berdasarkan dari pelayatan bersama rekan-rekannya kepada 30 keluarga pengungsi dari Irak Utara yang beragama Kristen Irak. Para pengungsi itu, masih menurut Taimoorazy, tinggal di lingkungan miskin pinggiran kota Amman. "Ada tiga keluarga yang kami temui yang tinggal di sebuah apartemen dengan tiga kamar tidur," jelas Taimoorazy. Hal itu tentu membuat para pengungsi tidak memiliki privasi, terlebih lagi bantuan yang sesungguhnya diperuntukan kepada mereka tidak sampai. Kalau pun ada organisasi amal yang datang, bantuan yang dibawanya tidak cukup saat tiba pemberian kepada mereka. Hal ini tidak terlepas dari kelalaian UNHCR yang belum memberikan status pengungsi kepada kebanyakan mereka.
 
Umumnya para pengungsi Irak dari keluarga beragama Kristen itu berharap mendapat kabar dari UNHCR tentang pemberian status pengungsi bagi mereka. "Apa yang terjadi adalah ketika mereka tiba di Yordania, mereka diwawancarai dan diberi nomor file dan dokumen, lalu mereka diminta untuk menunggu, mereka tidak memberi tahu mereka kapan mereka akan dipanggil kembali untuk wawancara kedua, kapan mereka akan mendapatkan status pengungsi. Mayoritas dari mereka belum menerima wawancara kedua, "Taimoorazy menyampaikan. "Orang-orang yang telah diwawancarai untuk kedua kalinya, mereka tidak tahu kapan mereka akan dihubungi lagi untuk memproses proses yang sebenarnya diterima di negara lain."
 
Dari beberapa pengungsi, Taimoorazy mengatakan bahwa setibanya di Yordania UNHCR tidak secara aktif meninjau dokumen para pengungsi Irak yang beragama Kristen. Sedangkan para pengungsi dari Irak atau Syria yang tidak beragama Kristen secara intens silih berganti datang dan pergi dari negara ini. Hal itu menunjukan bahwa kebanyakan pengungsi yang bukan dari keluarga yang beragama Kristen itu dengan mudah mendapatkan status pengungsinya. Taimoorazy juga mengungkapkan apa yang dikerjakan atau yang diucapkannya bukan bertujuan meminta perlakuan istimewa bagi para pengungsi Irak yang beragama Kristen. "Kami tidak meminta perlakuan istimewa," ujarnya. "Kami meminta pemrosesan dokumen mereka tepat waktu," tambahnya melanjutkan.

Free Joomla! template by L.THEME